MASALAH BREDEL BUKU APAKAH AKAN TERUS BERLANJUT Oleh: Mashruhan

MASALAH BREDEL BUKU APAKAH AKAN TERUS BERLANJUT
Oleh: Mashruhan

Buku merupakan menjadi sumber yang penting dalam kehidupan, karena dengan buku kita bisa mengetahui tentang sejarah, tentang pengetahuan yang tidak kita ketahui, dan tentang kehidupan. Kadang buku juga menjadi sumber bencana dan ada kalanya buku sebagai karya yang menuangkan pemikiran-pemikaran yang kita miliki.
“Dengan buku, kau boleh memenjarakanku di mana saja, Karena dengan buku aku bebas”.
Kata –kata diatas merupakan ucapan dari sang Proklamator Bung Hatta pada masa Kolonial, dimana pada masa itu ketika orang masuk penjara mereka masih dapat membaca dan menulis buku. Selain Bung Hatta, masih banyak lagi tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang menghasilkan karya pemikiran, seperti Ki Hajar Dewantara, Bung Syahrir, dan lain-lain. Dengan begitu dapat di simpulkan, bahwa dalam era kolonila pun di sana masih ada kebebasan para tokoh pergerakan kemerdekaan RI untuk bisa menuangkan gagasan dan pemikiran-pemeikiran mereka ke dalam sebuah buku maupun karya yang lain.
Akan tetapi setelah era kemerdekaan, kebebesan akan hal tersebut sudah mulai terbelenggu, yaitu ketika kekuasaan negeri ini di kuasai oleh rezim-rezim yang otoriter khususnya pada era Orde Lama dan Orde Baru. Hal tersebut dapat kita lihat pada saat dimana organisasi-organisasi di negeri ini di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI), contohnya adalah pada kasus yang di alami oleh group music legendaries bangsa ini yaitu Koes Bersaudara yang saat ini di kenal dengan Koes Plus, di mana mereka ketika menyanyikan lagu-lagu yang yangn bermakna anti revolusi, tak luput dari cekelan pemerintah serta dijebloskan dalam penjara.
Di era Presiden Soeharto tak sedikit buku-buku yang dilarang beredar, karena pemerintah mengangap hal tersebut menggangu kepentingan umum. Padahal kita ketahui bahwa buku merupakan sumber ilmu yang sangat penting. Pada era Reformasi politik, kebebasan untuk berekspresi dengan buku masih juga terbelenggu, dianatarnya adalah buku mengenai “ Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto ( John Rossa)”. Hingga saat ini buku tersebut masih di larang untuk diterbitkan, dan pelarangan penerbitan buku tersebut menjadi kontroversi, yaitu apakah masih layak pelarangan itu, padahal system politik Negara Indonesia ini sudah menuju demokrasi. Dalam teori Demokrasi, bahwa pengertian dari Demokarasi adalah pemerintahan oleh rakyat, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat dan langsung dijalankan oleh rakyat. Sehingga pada masa ini masih terdapat adanya pelarangan terhadap buku-buku untuk terbit, maka dapat di katakan bahwa bangsa ini belum dalam masa Demokrasi.
Pada saat ini masih juga terdapat pelarangan-pelarang terhadap buku, walaupun pelarangan tersebut tidak secara resmi, tetapi toko-toko dilarang untuk tidak menjualnya, seperti kasus yang terjadi pada buku karangannya George Junus Aditjondro, “ Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Kasus Bank Century” penerbit Galang Press, Yogyakarta 2009. Buku tersebut berisikan tentang menguak bisnis keluarga Presiden Susilo Bmbang Yudoyono, serta kaitannya dengan Bank Century. Dan berisi tentang yayasan-yayasan yang didirikan oleh SBY dan kasusnya untuk memperoleh uang dari para pengusaha dan meraih dukungan suara dari pemilih pada saat pemilihan legeslatif dan pemilihan presiden 2009. Buku karangannya George tersebut memang mengalami kontroversi dan buku tersebut akan ditarik dari peredaran di masyarakat.
Buku tersebut ditarik karena diduga isi dari buku tersebut adalah fitnah. Akan sangat menarik dan ilmiah jika dalam membantah dari isi buku karangan Goerge tersebut dengan cara menerbitkan buku-buku sanggahan, tidak dengan cara pencekalan terhadap pengarang dan memifnah isi buku tersebut. Padahal kalau kita tengok tentang teori Demokrasi menganai Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi tentang Kebebasan, bahwa Negara akan memberikan jaminan kebebasan berpendapat, berekspresi dalam menuangkan gagasan-gasagasn dan pemikiran-pemikiran dalam sebuah buku. Sehingga alangkah baiknya jika buku karangan George tersebut di edarkan terlebih dahulu agar masyarakat dapat menilai tentang isi dari buku tersebut, apakah isinya memang benar atau hanya rekasayasa belaka ataupun fitnah. Dan pemerintah tidak berhak untuk pelarngan penerbitan buku tersebut, ketika memang Negara kita Negara yang Demokrasi

Published in: on January 13, 2010 at 4:37 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ruhaen.wordpress.com/2010/01/13/25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: