BUNUH DIRI; REALITA DI MASYARAKAT YANG TAK TERBANTAHKAN

BUNUH DIRI; REALITA DI MASYARAKAT YANG TAK TERBANTAHKAN
Oleh: Mashruhan
Bunuh diri sudah tidak lagi menjadi hal yang tabu di masyarakat, karena bunuh diri sekarang menjadi fenomena di masyarakat. Mengenai bunuh diri di masyarakat banyak yang mengakibatkannya, baik karena dampak kemiskinan yang berkepanjangan, overdosis obat terlarang hingga bunuh diri karena akibat percintaan dikalangan remaja.
Mengenai bunuh diri, maka kita akan selalau tertuju pada Teori Sosiologinya Emile Durkheim tentang fenomena bunuh diri di masyarakat. Durkheim menyebutkan bahwa bunuh diri di masyarakat di bagi menjadi empat bagian:
1. Bunuh Diri Egoistis
Bunuh diri Egoistis adalah bunuh diri, karena sikap seseorang tidak berintregrasi dengan groupnya, yaitu keluarganya, kelompok rekan-rekan, kumpulan agama, dan sebagainya. Hidupnya tidak terbuka terhadap orang lain, sehingga ketika di mendaptkan masalah, mak oranglain tidak ada yang bisa membantu. Karena disebabkan oleh rasa egoismenya yang tinggi, maka ketika dia tersudut dalam keadaan yang sulit, dia akan membunuh dirinya.
2. Bunuh Diri Altruistis
Beda dengan bunuh diri egoistis, bunuh diri altruistis adalah bunuh diri disebabkan oleh adanya relasi-relasi negative dengan masyarakat atau kelompok. Bunuh diri altruistis adalah yang bersangkutan sedemikian menyatukan diri dengan nilai-nilai grupnya dan sedemikain berintregrasinya, hingga di luar itu di tidak mempunyai identitas.
3. Bunuh Diri Anomi
Bunhuh diri anomi adalah kekaburan norma, dimana orang yang bersangkutan kehilangan cit-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang semula memberi motivasi terhadap perilakunya tidak berpengaruh lagi. Sehingga di merasa kebinggungan karena tidak ada norma atau nilai dalam masyarakat yang tidak pasti.
4. Bunuh Diri vatalistis
Bunuh diri vatlistis adalah bunh diri yang sekarang ini lagi marak-maraknya terjadi di masyarakat. Bunuh diri ini akibat karena sikap seseorang yang merasa putus asa terhadap keadaan hidupnya saat itu. Seperti, kemiskinan yang terus berlanjut.

Dari teori yang dikemukakan diatas dapat di simpulkan bahwa mayoritas bunuh diri yang sekarang lagi terjadi adalah bunuh diri secara Vatalistis yaitu bunuh diri karena keputus asaan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahwa pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia masih cukup tinggi. Sedikitnya 50.000 orang melakukan bunuh diri tiap tahunnya, dan diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuh diri per harinya.
Sementara itu untuk tahun 2007, terdapat 12 orang kasus bunuh diri yang disebabkan oleh terimpit persoalan ekonomi. Dan kasus lainnya akibat pemyakit yang tidak kunjung sembuh lantaran tiadak ada biaya untuk berobat. Pada tahun 2008, berdasarkan data sejak awal 2008 hingga bulan April sudah ada 11 kasus bunuh diri yang terjadi di daerah Kabupataen Banyumas rata-rat tiap bulanya hamper tiga kasus. Factor yang menjadi penyebabnya tidak lain adalah kemiskinan, tetapi juga ada factor lainnya seperti, baru kehilangan pekerjaan, dukungan sosial di masyarakat yang kurang, dan lain-lain.
Berdasarkan data dari Sumber Wahana Komunikasi Lintas Spesialis, bahwa Indonesia tidak ada data nasional yang secara spesifikasi tentang bunuh diri. Laporan di Jakarta menyebutkan bahwa sekitar 1,2 per 100.000 penduduk dan kejadian bunuh diri tertinggi di indonesi adalah daerah Gunung Kidul, Yogyakarta mencapai 9 kasus per 100.00 penduduk. Setelah di kaji, ternyata rata-rata kasusnya adalah pada persoalan ekonomi. Mengenai daerah Gunung Kidul, maka dalam kajian teori Sosiologi kita akan dapat menganalisis dengan teorinya Herbert Spencer Teori Evolusi tantang Survival of The Fittest yaitu hokum rimba, yang mana yang kuat akan semakin kuat, dan yang lemah akan semakin lemah. Ditinjau secara Geografis daerah Gunung Kidul, merupakan daerah yang pada sector pertanian maupun perkebunan sulit, yang tidak lain adalah karena kekeringan. Mengenai Survival of The Fittest, bahwa penduduk di Gunung Kidul yang kuat akan keadaan dan bisa mengatasinya akan bertahan, sedangkan penduduk yang tidak kuat pada keadaan, maka pindah daerah dan ketika tidak mampu pindah daerah jalan terakhir mereka adalah membunuh diri.
Sealin di daerah Gunung Kidul, data Departemen Kesehatan menyebutkan beberapa daerah yang memiliki angka bunuh dirinya tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari-September 2005 dan 121 selama tahun 2004. Tahun 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah tercatat 20 kasus dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun. Di Jakarta sepanjang tahu 1995-2004 mencapai 5,8 % per 100 ribu penduduk.
Selama tiga tahun terakhir ini, sedikitnya 50 orang melalakukan bunuh diri. Dan kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi penyebab utama dalam tingginya jumlah orang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Berdasarkan hasil penelitian, posisi Indonesia sendiri hamper mendekati Negara-negara bunuh diri, seperti Jepang, yang mencapai dari 30.00 orang per tahun dan China mencapai 250.000 per tahun. Sehingga ketika kasus bunuh diri tidak dicegah, maka suatu saat tingkat bunuh diri di negra Indonesia dapat menjadi pemegang rekor bunuh diri, seperti Jepang dan China.

Published in: on January 13, 2010 at 4:35 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ruhaen.wordpress.com/2010/01/13/23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: